Hari ini hari ke sembilan dia diklat ke tiga di PLN. Sebelumnya kami sudah melewati cobaan yang begitu berat. Yang paling berat menurut saya yaitu saat dia mulai diklat kesamaptaan di bogor selama sepuluh hari. Entah kenapa hati merasa ga tenang. Padahal biasanya kalau kita sedang berantem pasti besoknya aku selalu jutek bahkan ga kasih kabar sama dia seharian. Tapi entah kenapa untuk yang kali ini ga bisa merasa tenang. Dari awal dia berangkat sampai dia kasih tau kalau handphone nya akan diambil oleh panitia dan akan dikembalikan sepuluh hari kemudian. Rasanya mendengar kabar seperti itu badan terasa lemas. Ga sanggup beraktivitas. Apalagi saya sedang dalam proses penyelesaian skripsi. Harusnya aku bisa fokus, semangat tapi rasanya aku ga sanggup karena penyemangat aku itu cuma dia. Saya merasa ga tenang, ga nyaman karena saya takut dalam diklat yang dia jalani ada kekerasan. saya ga mau hal itu terjadi. Setiap hari saya selalu berdoa agar Allah melindungi, menjaga dia dari bahaya apapun. Dan yang paling saya takutkan adalah teman-teman barunya. Karena saya belum tau sifat dan karakter dari teman barunya. Apalagi dia sering menyebutkan bahwa wanita-wanitanya cantik dan seksi. Saat mendengar hal itu rasanya saya ingin sekali membanting handphone dan menutup telinga. Tapi sampai kapan saya harus menuduh, cemburu, dan tidak percaya kepada dia. Padahal dia selalu menunjukan bahwa dirinya bersungguh-sungguh menjalin hubungan bersama saya. Memang sifat cemburu saya tidak bisa hilang 100% terhadap dia. Tapi sampai saat ini saya mencoba mempercayai dia lagi. Saya sangat trauma. saya ga mau hal yang buruk dimasa lalu terulang kembali.
Pada hari ke sepuluh diklat pertama saya menunggu dia dari pagi bahkan malam dihari ke sembilan rasanya hati sudah tak sabar ingin mendengar suara dia. Saya terus menunggu dari pagi saya sudah standby handphone ga lepas dari tangan saya. Sampai pada akhirnya handphone saya berdering panggilan masuk dari dia. Demi Allah badan saya terasa gemetar, dingin dan nafas terasa sesak sehingga saya tidak bisa berbicara. Luar biasa senangnya tak bisa diukur dan timbang seberapa senangnya pada hari itu.
saya sudah senang akhirnya diklat selesai. Tapi kesenangan itu hanya dapat dirasakan beberapa jam saja. Karna masih harus menjalani diklat ke dua selama sepuluh hari dan itu membuat saya sedih kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar