Selasa, 15 Juli 2014

Diklat Kedua

Lanjut posting sebelumnya kali ini saya akan bercerita tentang hari ke dua dimana dia kembali diklat.
Dia mulai diklat kembali dan handphone lagi lagi diamankan oleh panitia. Diklat kembali diselenggarakan selama 10 hari. Baru saja saya mendapatkan kebahagiaan karena bisa berkomunikasi kembali bersama dia, ternyata keesokan harinya kita berpisah lagi. Pikiran mulai ga tenang, ga karuan, kacau, dan mulai ga fokus apa yang akan saya lakukan dan yang akan saya kerjakan. Setiap hari kalau tidak ada kegiatan saya selalu diam dikamar dan ga sanggup menahan air mata untuk tidak keluar. Setiap ingat dia saya selalu sedih dan kepikiran terus menerus dia sedang apa, sama siapa, dimana, dan apakah dia baik-baik saja? pertanyaan itu selalu menghantui pikiran saya karena tidaka ada yang bisa menjawabnya. 
tapi saya benar-benar bersyukur karena diklat ke dua ini saya masih diberi kesempatan untuk berkomunikasi sama dia walaupun hanya beberapa menit dan lewat banyak nomor. tapi Subhanallah rasa sedih berkurang apalagi saya mulai dekat sama orangtuanya dia dan keluarganya dia karena saya menjembatani komunikasi antara dia dan keluarganya. Senang rasanya saya seperti diterima dikeluarganya. tapi kesedihan saya datang kembali saat saya diberi kabar kalau dia sakit. jujur saya ga bisa dengar kalau dia sakit, saya ga mau dia kenapa-kenapa. apalagi sedang jauh dari orangtuanya dan juga saya. ingin sekali saya merawat dia. dengar dia sakit, apalagi batuk, nafas saya rasanya sesak sekali air mata tidak bisa berhenti untuk mengalir. sampai suatu hari saya berfikiran untuk pergi menjenguk dia. saya gabisa menahan rasa rindu ini. jadi saya tekatkan untuk pergi menemui dia. dan suatu hari saya pegi ke udiklat ragunan ditemani teman saya, setelah sampai saya menunggu di masjid. subhanallah sangat sejuk, bikin hati damai dan tenang berdiam di dalam masjid. saya dan teman saya menunggu sampai adzan dzuhur. setelah selesai shalat, saya menunggu didepan masjid. tidak lama kemudian munculah dia dengan wajah yang terlihat capek dan lesu. rasanya sangat senang bertemu dia. kalau saja pertemuan saya bukan di masjid rasanya saya ingin memeluk dia erat-erat dan tidak mau melepaskan pelukan itu. tapi saya coba tahan karena tidak pantas ditempat umum dan tempat suci saya berbuat seperti itu. saya hanya bisa menangis dan terharu ketika melihat dia. entah apa yang salah padahal sebelumnya saya sudah sering lama tidak bertemu saat masa kuliah. tapi kali ini rasanya sangat beda. 30 menit saya duduk bersama dia dan ditemani teman saya lalu saya dan dia berbincang mencurahkan rasa rindu mengeluarkan air mata dengan lepas. sampai pada akhirnya 30 menit berlalu dan dia harus kembali masuk kelas. saya tidak bisa berbuat apa-apa. tapi dia berjanji kalau dia akan menjaga hatinya untuk saya. 
Dia masuk kelas, saya pun pulang bersama teman saya. keesokan harinya selalu ada kesempatan untuk bisa berkomunikasi dengan dia entah itu lewat handphone om nya. atau panitianya.
Saya bertemu dengan dia tidak hanya satu kali. tapi disaat hari terakhir dia berada di jakarta saya kembali menemui dia karena saya tahu dia sakit nya semakin parah. saya bawakan obat dan saya bawakan dia al-qur'an. sedih sangat sedih pertemuan kedua ini. karena besoknya dia akan berangkat ke malang untuk 50 hari. bayangkan 50 hari malang-jakarta. 50 hari saya harus mandiri menghadapi ujian sidang nanti. YaALLAH apa salah saya sampai-sampai saya harus menerima cobaan yang begitu berat harus dijauhkan dari dia disaat dia sedang sakit dan disaat saya sedang membutuhkan dia untuk menyemangati hari-hari saya. sungguh cobaan ini sangat berat sekali. saya ga tau apakah saya sanggup menghadapi ujian ini. saya hanya bisa meminta tolong dan perlindungan kepadaMu  untuk kebaikan hubungan kami berdua. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar