Pekan ini masuk ke diklat ke 3 dimana dia harus pergi meninggalkan jakarta dan berhijrah ke kota malang. Disana dia tidak akan sebentar, cukup lama yaitu 50 hari kerja, artinya minggu tidak masuk dalam hitungan. Waktu yang sangat panjang, karena saya dan dia tidak terbiasa berpisah dalam waktu yang lama. Paling lama 3 minggu, itupun tetap sering berkomunikasi pagi, siang, sore, malam, tiap menit pasti sering kasih kabar. Tapi sekarang hal itu sudah bukan menjadi rutinitas atau kewajiban lagi untuk kita. ga ada lagi telfon-telfonan berjam-jam, sampai handphone panas, bahkan sampai ketiduran. Rindu rasanya melakukan apa yang sering kita lakukan. dari mulai bercanda, berantem, romantisan, sampai ketawa-ketawa. kapan ya hal itu bisa saya dapatkan lagi? Memang harus saya sadari dunia kerja sangatlah jauh berbeda dengan dunia kuliah. Kuliah masih bisa bolos, masih ada waktu di siang atau sore hari untuk bersantai, dan tentunya masih sangat boleh untuk bergadang jadi kita bisa telfon-telfonan sampai subuh. hahaha
Nah sekarang kembali ke diklat. Dia pergi ke malang pakai bis menempuh waktu 24jam untuk bisa sampai di malang, dan alhamdulillah handphone dikembalikan jadi 24 jam saya ga mau membuang waktu sedikitpun untuk bisa berkomunikasi walaupun dijalan dia banyak tidurnya. Di bis itu campur, ada wanitanya. *ini yang bikin saya cemas dan cemburu* ehmm tapi possitive thinking lah ya. Tapi jujur pikiran saya sedang kemana-mana. Pertama mikirin Tugas akhir yang belum selesai. ke dua mikirin dia knpa harus pergi jauh dalam waktu yang lama. ke tiga kenapa juga di bis harus campur antara cewe dan cowo. ke empat di malangnya juga campur ada cewe dan cowo, tempat tinggalnya ga jauh. ke lima dikelasnya ada cewenya juga walaupun cuma 1. Otak ini rasanya harus mikir keras, apakah saya harus bertahan? apakah saya bisa bertahan? apakah saya harus menunggu dia? apakah saya harus setia untuk dia? apakah disana dia setia kepada saya? siapa yang bisa jawab semua itu?
Sempat saya merasa lelah dengan keadaan ini, saya merasa sudah ga sanggup lagi, merasa bahwa ujian ini sangat berat, saya seperti dipaksa jalan sendirian di tempat yang gelap sunyi panjang dan lama. Setiap hari sesudah shalat, setiap saya berdoa untuk dia yang saya bisa lakukan hanya menangis, dan menangis. Meminta dan memohon perlindungan-NYA agar kami berdua cepat dipertemukan kembali dan selalu dijaga kesehatannya, hatinya, jiwa dan raganya. Apalagi dari diklat ke dua dia sudah sakit batuk sampai hari ini pun dia sakit. ke rumah sakit sudah 2kali, itu membuat saya kepikiran. mungkin kalau orangtuanya tahu pun akan kepikiran, tapi dia ga mau ceritakan kepada ibu/bapaknya. Kenapa bukan saya saja yang sakit, saya tidak ada kegiatan jadi kalau saya sakit saya masih bisa istirahat. kalau dia disana sakit takutnya ga konsen, dan membahayakan karirnya dia.Kalau sudah dengar dia sakit keras rasanya saya ingin ada di hadapan dia, menjaganya, merawatnya, memanjakannya. Tapi saya tidak bisa, saya tidak mungkin pergi ke malang sendirian apalagi dengan alasan untuk menjenguk dia, karena dia bukan suami saya. Makanya saya pengen banget cepat-cepat menikah dengan dia, biar saya bisa selalu dekat dengan dia. Tapi apa mungkin saya diijinkan menikah secepat itu? Dia kepinginnya 2015 menikahi saya. sedangkan saya agustus 2014 baru mau sidang kelulusan S1. Belum mendapatkan kerja, dan saya sangat ga mungkin sekali selesai kuliah langusung menikah meninggalkan kedua orangtua saya. Rasa terimakasih, balas budinya belum saya lakukan untuk mereka. setidaknya mereka bisa melihat saya bisa sukses atau saya mendapatkan pekerjaan. Walaupun mungkin jika saya sudah kerja nanti gajinya tidak semuanya diberikan kepada orangtua, karena mereka pasti tidak akan mau menerimanya.
Sungguh menjadi saya itu sangat complicated. Disatu sisi saya masih harus berbakti kepada orangtua dan masih ingin menemani mereka, tapi disisi lain saya ingin sekali membangun kehidupan yang baru bersama keluarga baru. Saya tidak ingin memperpanjang masa pacaran saya, karena apa yang saya dan dia jalani ini dosa. pacaran lama-lama cuma dapat dosa. Kalau sudah sah kan namanya bukan pacaran lagi. sudah terikat juga jadi saya tidak perlu menghawatirkan dia.
Yang jelas sekarang saya disini sedang berusaha keras untuk menyelesaikan study ku ini. Doa saya tidak lepas untuk dia yang sedang menuntut ilmu dan mengejar masa depannya. mudah-mudahan dilancarkan segala urusannya. Biar dia bisa masuk pegawai negeri, mungkin dengan karir dia yang bagus orangtua saya bisa lebih yakin dengan dia dan mungkin akan lebih cepat memproses pernikahan kami. Aamiin..