Rabu, 16 Juli 2014

Diklat ketiga #Longdistance Relationship

Pekan ini masuk ke diklat ke 3 dimana dia harus pergi meninggalkan jakarta dan berhijrah ke kota malang. Disana dia tidak akan sebentar, cukup lama yaitu 50 hari kerja, artinya minggu tidak masuk dalam hitungan. Waktu yang sangat panjang, karena saya dan dia tidak terbiasa berpisah dalam waktu yang lama. Paling lama 3 minggu, itupun tetap sering berkomunikasi pagi, siang, sore, malam, tiap menit pasti sering kasih kabar. Tapi sekarang hal itu sudah bukan menjadi rutinitas atau kewajiban lagi untuk kita. ga ada lagi telfon-telfonan berjam-jam, sampai handphone panas, bahkan sampai ketiduran. Rindu rasanya melakukan apa yang sering kita lakukan. dari mulai bercanda, berantem, romantisan, sampai ketawa-ketawa. kapan ya hal itu bisa saya dapatkan lagi? Memang harus saya sadari dunia kerja sangatlah jauh berbeda dengan dunia kuliah. Kuliah masih bisa bolos, masih ada waktu di siang atau sore hari untuk bersantai, dan tentunya masih sangat boleh untuk bergadang jadi kita bisa telfon-telfonan sampai subuh. hahaha
Nah sekarang kembali ke diklat. Dia pergi ke malang pakai bis menempuh waktu 24jam untuk bisa sampai di malang, dan alhamdulillah handphone dikembalikan jadi 24 jam saya ga mau membuang waktu sedikitpun untuk bisa berkomunikasi walaupun dijalan dia banyak tidurnya. Di bis itu campur, ada wanitanya. *ini yang bikin saya cemas dan cemburu* ehmm tapi possitive thinking lah ya. Tapi jujur pikiran saya sedang kemana-mana. Pertama mikirin Tugas akhir yang belum selesai. ke dua mikirin dia knpa harus pergi jauh dalam waktu yang lama. ke tiga kenapa juga di bis harus campur antara cewe dan cowo. ke empat di malangnya juga campur ada cewe dan cowo, tempat tinggalnya ga jauh. ke lima dikelasnya ada cewenya juga walaupun cuma 1. Otak ini rasanya harus mikir keras, apakah saya harus bertahan? apakah saya bisa bertahan? apakah saya harus menunggu dia? apakah saya harus setia untuk dia? apakah disana dia setia kepada saya? siapa yang bisa jawab semua itu? 
Sempat saya merasa lelah dengan keadaan ini, saya merasa sudah ga sanggup lagi, merasa bahwa ujian ini sangat berat, saya seperti dipaksa jalan sendirian di tempat yang gelap sunyi panjang dan lama. Setiap hari sesudah shalat, setiap saya berdoa untuk dia yang saya bisa lakukan hanya menangis, dan menangis. Meminta dan memohon perlindungan-NYA agar kami berdua cepat dipertemukan kembali dan selalu dijaga kesehatannya, hatinya, jiwa dan raganya. Apalagi dari diklat ke dua dia sudah sakit batuk sampai hari ini pun dia sakit. ke rumah sakit sudah 2kali, itu membuat saya kepikiran. mungkin kalau orangtuanya tahu pun akan kepikiran, tapi dia ga mau ceritakan kepada ibu/bapaknya. Kenapa bukan saya saja yang sakit, saya tidak ada kegiatan jadi kalau saya sakit saya masih bisa istirahat. kalau dia disana sakit takutnya ga konsen, dan membahayakan karirnya dia.Kalau sudah dengar dia sakit keras rasanya saya ingin ada di hadapan dia, menjaganya, merawatnya, memanjakannya. Tapi saya tidak bisa, saya tidak mungkin pergi ke malang sendirian apalagi dengan alasan untuk menjenguk dia, karena dia bukan suami saya. Makanya saya pengen banget cepat-cepat menikah dengan dia, biar saya bisa selalu dekat dengan dia. Tapi apa mungkin saya diijinkan menikah secepat itu? Dia kepinginnya 2015 menikahi saya. sedangkan saya agustus 2014 baru mau sidang kelulusan S1. Belum mendapatkan kerja, dan saya sangat ga mungkin sekali selesai kuliah langusung menikah meninggalkan kedua orangtua saya. Rasa terimakasih, balas budinya belum saya lakukan untuk mereka. setidaknya mereka bisa melihat saya bisa sukses atau saya mendapatkan pekerjaan. Walaupun mungkin jika saya sudah kerja nanti gajinya tidak semuanya diberikan kepada orangtua, karena mereka pasti tidak akan mau menerimanya. 
Sungguh menjadi saya itu sangat complicated. Disatu sisi saya masih harus berbakti kepada orangtua dan masih ingin menemani mereka, tapi disisi lain saya ingin sekali membangun kehidupan yang baru bersama keluarga baru. Saya tidak ingin memperpanjang masa pacaran saya, karena apa yang saya dan dia jalani ini dosa. pacaran lama-lama cuma dapat dosa. Kalau sudah sah kan namanya bukan pacaran lagi. sudah terikat juga jadi saya tidak perlu menghawatirkan dia. 
Yang jelas sekarang saya disini sedang berusaha keras untuk menyelesaikan study ku ini. Doa saya tidak lepas  untuk dia yang sedang menuntut ilmu dan mengejar masa depannya. mudah-mudahan dilancarkan segala urusannya. Biar dia bisa masuk pegawai negeri, mungkin dengan karir dia yang bagus orangtua saya bisa lebih yakin dengan dia dan mungkin akan lebih cepat memproses pernikahan kami. Aamiin..

Selasa, 15 Juli 2014

Diklat Kedua

Lanjut posting sebelumnya kali ini saya akan bercerita tentang hari ke dua dimana dia kembali diklat.
Dia mulai diklat kembali dan handphone lagi lagi diamankan oleh panitia. Diklat kembali diselenggarakan selama 10 hari. Baru saja saya mendapatkan kebahagiaan karena bisa berkomunikasi kembali bersama dia, ternyata keesokan harinya kita berpisah lagi. Pikiran mulai ga tenang, ga karuan, kacau, dan mulai ga fokus apa yang akan saya lakukan dan yang akan saya kerjakan. Setiap hari kalau tidak ada kegiatan saya selalu diam dikamar dan ga sanggup menahan air mata untuk tidak keluar. Setiap ingat dia saya selalu sedih dan kepikiran terus menerus dia sedang apa, sama siapa, dimana, dan apakah dia baik-baik saja? pertanyaan itu selalu menghantui pikiran saya karena tidaka ada yang bisa menjawabnya. 
tapi saya benar-benar bersyukur karena diklat ke dua ini saya masih diberi kesempatan untuk berkomunikasi sama dia walaupun hanya beberapa menit dan lewat banyak nomor. tapi Subhanallah rasa sedih berkurang apalagi saya mulai dekat sama orangtuanya dia dan keluarganya dia karena saya menjembatani komunikasi antara dia dan keluarganya. Senang rasanya saya seperti diterima dikeluarganya. tapi kesedihan saya datang kembali saat saya diberi kabar kalau dia sakit. jujur saya ga bisa dengar kalau dia sakit, saya ga mau dia kenapa-kenapa. apalagi sedang jauh dari orangtuanya dan juga saya. ingin sekali saya merawat dia. dengar dia sakit, apalagi batuk, nafas saya rasanya sesak sekali air mata tidak bisa berhenti untuk mengalir. sampai suatu hari saya berfikiran untuk pergi menjenguk dia. saya gabisa menahan rasa rindu ini. jadi saya tekatkan untuk pergi menemui dia. dan suatu hari saya pegi ke udiklat ragunan ditemani teman saya, setelah sampai saya menunggu di masjid. subhanallah sangat sejuk, bikin hati damai dan tenang berdiam di dalam masjid. saya dan teman saya menunggu sampai adzan dzuhur. setelah selesai shalat, saya menunggu didepan masjid. tidak lama kemudian munculah dia dengan wajah yang terlihat capek dan lesu. rasanya sangat senang bertemu dia. kalau saja pertemuan saya bukan di masjid rasanya saya ingin memeluk dia erat-erat dan tidak mau melepaskan pelukan itu. tapi saya coba tahan karena tidak pantas ditempat umum dan tempat suci saya berbuat seperti itu. saya hanya bisa menangis dan terharu ketika melihat dia. entah apa yang salah padahal sebelumnya saya sudah sering lama tidak bertemu saat masa kuliah. tapi kali ini rasanya sangat beda. 30 menit saya duduk bersama dia dan ditemani teman saya lalu saya dan dia berbincang mencurahkan rasa rindu mengeluarkan air mata dengan lepas. sampai pada akhirnya 30 menit berlalu dan dia harus kembali masuk kelas. saya tidak bisa berbuat apa-apa. tapi dia berjanji kalau dia akan menjaga hatinya untuk saya. 
Dia masuk kelas, saya pun pulang bersama teman saya. keesokan harinya selalu ada kesempatan untuk bisa berkomunikasi dengan dia entah itu lewat handphone om nya. atau panitianya.
Saya bertemu dengan dia tidak hanya satu kali. tapi disaat hari terakhir dia berada di jakarta saya kembali menemui dia karena saya tahu dia sakit nya semakin parah. saya bawakan obat dan saya bawakan dia al-qur'an. sedih sangat sedih pertemuan kedua ini. karena besoknya dia akan berangkat ke malang untuk 50 hari. bayangkan 50 hari malang-jakarta. 50 hari saya harus mandiri menghadapi ujian sidang nanti. YaALLAH apa salah saya sampai-sampai saya harus menerima cobaan yang begitu berat harus dijauhkan dari dia disaat dia sedang sakit dan disaat saya sedang membutuhkan dia untuk menyemangati hari-hari saya. sungguh cobaan ini sangat berat sekali. saya ga tau apakah saya sanggup menghadapi ujian ini. saya hanya bisa meminta tolong dan perlindungan kepadaMu  untuk kebaikan hubungan kami berdua. Aamiin...

First Day

Hari ini hari ke sembilan dia diklat ke tiga di PLN. Sebelumnya kami sudah melewati cobaan yang begitu berat. Yang paling berat menurut saya yaitu saat dia mulai diklat kesamaptaan di bogor selama sepuluh hari. Entah kenapa hati merasa ga tenang. Padahal biasanya kalau kita sedang berantem pasti besoknya aku selalu jutek bahkan ga kasih kabar sama dia seharian. Tapi entah kenapa untuk yang kali ini ga bisa merasa tenang. Dari awal dia berangkat sampai dia kasih tau kalau handphone nya akan diambil oleh panitia dan akan dikembalikan sepuluh hari kemudian. Rasanya mendengar kabar seperti itu badan terasa lemas. Ga sanggup beraktivitas. Apalagi saya sedang dalam proses penyelesaian skripsi. Harusnya aku bisa fokus, semangat tapi rasanya aku ga sanggup karena penyemangat aku itu cuma dia. Saya merasa ga tenang, ga nyaman karena saya takut dalam diklat yang dia jalani ada kekerasan. saya ga mau hal itu terjadi. Setiap hari saya selalu berdoa agar Allah melindungi, menjaga dia dari bahaya apapun. Dan yang paling saya takutkan adalah teman-teman barunya. Karena saya belum tau sifat dan karakter dari teman barunya. Apalagi dia sering menyebutkan bahwa wanita-wanitanya cantik dan seksi. Saat mendengar hal itu rasanya saya ingin sekali membanting handphone dan menutup telinga. Tapi sampai kapan saya harus menuduh, cemburu, dan tidak percaya kepada dia. Padahal dia selalu menunjukan bahwa dirinya bersungguh-sungguh menjalin hubungan bersama saya. Memang sifat cemburu saya tidak bisa hilang 100% terhadap dia. Tapi sampai saat ini saya mencoba mempercayai dia lagi. Saya sangat trauma. saya ga mau hal yang buruk dimasa lalu terulang kembali. 
Pada hari ke sepuluh diklat pertama saya menunggu dia dari pagi bahkan malam dihari ke sembilan rasanya hati sudah tak sabar ingin mendengar suara dia. Saya terus menunggu dari pagi saya sudah standby handphone ga lepas dari tangan saya. Sampai pada akhirnya handphone saya berdering panggilan masuk dari dia. Demi Allah badan saya terasa gemetar, dingin dan nafas terasa sesak sehingga saya tidak bisa berbicara. Luar biasa senangnya tak bisa diukur dan timbang seberapa senangnya pada hari itu. 
saya sudah senang akhirnya diklat selesai. Tapi kesenangan itu hanya dapat dirasakan beberapa jam saja. Karna masih harus menjalani diklat ke dua selama sepuluh hari dan itu membuat saya sedih kembali.